Mengenal Kalimantan Tengah

Kalimantan Tengah (disingkat Kalteng) adalah salah satu provinsi di Indonesia yang terletak di Pulau Kalimantan. Ibu kotanya adalah Kota Palangkaraya. Kalimantan Tengah memiliki luas 153.564,60 km². Berdasarkan sensus tahun 2010, provinsi ini memiliki populasi 2.202.599 jiwa, yang terdiri atas 1.147.878 laki-laki dan 1.054.721 perempuan. Data BPS Kalimantan Tengah tahun 2019 menunjukkan penduduk provinsi ini tahun 2018 bertambah menjadi 2.660.209 (Laki-laki 1.391.078 jiwa dan perempuan 1.269.131 jiwa).[2] Kalimantan Tengah mempunyai 13 kabupaten dan 1 kota.[2]

Rumah adat di Kalimantan Tengah biasa disebut dengan Rumah Betang. Sebenarnya hampir sama dengan wilayah Kalimantan yang lain, rumah adat di sini kebanyakan berbentuk panggung dan bentuknya panjang. 




Secara demografi penduduk asli Kalimantan Tengah adalah suku Dayak sebanyak 46.62 %, Jawa 21,67 %, Banjar 21,03 %, Melayu 3,96 %, Madura 1,93 %, Sunda 1,29 %, Bugis 0,77 %, Batak 0,56 %, Flores 0,33 %, Bali 0,3%, lain lain 1,44 %

Agama islam 73,99%, kristen 19,82% (protestan16,66% dan katolik 3,16%, Hindu/kharingan 6,03%, buddha 0,11%, Konghucu 0,08%, lain lain 0,04%

Bahasa yang umum dipakai adalah bahasa resmi Indonesia, bahasa lokal bahasa Dayak dan banjar, Jawa Bugis dan Madura serta Melayu

Senjata tradisional Kalimantan tengah adalah

Mando (ejaan Indonesia: Mandau, adalah ejaan yang salah) berasal dari bahasa Dayak Kalimantan Tengah, yaitu asal kata "Man" yaitu singkatan dari kata "kuman" yang bearti "makan" dan dibentuk dari kata "do" yaitu singkatan dari kata "dohong" yakni pisau belati khas Kalimantan tengah.






Lagu daerah merupakan lagu yang diciptakan oleh masyarakat setempat. Biasanya mengangkat kisah atau adat yang ada di daerah tersebut. Lagu daerah juga sarat akan makna dan pembelajaran. Akan tetapi, banyak lagu daerah yang tidak diketahui siapa penciptanya. Terkadang, lagu yang digunakan untuk mengiringi tarian daerah setempat.

1.Manari Manasai. Lagu ini merupakan hasil karya Holten. R. Biasanya lagu ini digunakan untuk mengiringi tari manasai. Nada yang digunakan cenderung ceria dan gembira.

Tari manasai merupakan salah satu tarian khas Kalimantan Tengah yang sering dibaca pada saat acara penyambutan. Tarian tersebut biasanya dibawakan oleh beberapa orang yang saling berselang - seling antar laki - laki dan perempuan. Lagu Manari Manasai memiliki birama 4/4. 

2.Malauk Manjala. 
Lagu ini bercerita tentang penjala ikan (nelayan). Kehidupan nelayan yang selalu bekerja sama dan saling menolong. Dalam liriknya juga diceritakan nelayan menyudahi pekerjaannya dan pulang ke rumah saat senja tiba. Lagu ini memiliki birama 4/4.

3.Mamangun Mahagu Lewu merupakan lagu daerah asal Kalimantan Tengah. Lagu ini berisi nasehat untuk selalu menanamkan disiplin pada diri. Selain itu, lagu Mamangun Mahagu Lewu juga mengajarkan agar manusia tidak lalai. Dalam lagu terdapat kata “lewu” yang artinya berantakan. Konon jika kita lalai, maka hidup kita akan berantakan. 

4.tumpi Wayu. 
Makna lagu ini disusun berdasarkan data yang komposisinya berdasarkan nilai - nilai budaya atau tradisi turun-temurun.
Tumpi Wayu memiliki birama 3/4 dan dinamika yang sedang. Bahasa yang digunakan adalah bahasa manyaan. Biasanya bahasa ini digunakan oleh penduduk Suku Dayak yang tinggal di Kabupaten Barito.

Kesenian tradisional Kalimantan Tengah didominasi oleh tarian. Ada banyak varian tari tradisional khas daerah dengan julan Bumi Tambun Bungai ini.

Sedangkan kesenian lainnya diisi oleh syair lagu tradisional yang kini masih terus berusaha dipertahankan agar menjadi warisan kesenian yang kekal hingga di masa mendatang.

Berikut ini daftar kesenian tradisional Kalimantan Tengah

1.Tari Kayau

Tari Kayau merepresentasikan bentuk keberanian Suku Dayak saat berperang di masa lampau. Di mana mereka sangat menjaga daerah kekuasaan dan melindungi suku dari ancaman musuh dengan penuh keberanian. Sekalipun harus memotong kepala musuh.

Kayau atau mengayau sendiri berarti memotong kepala musuh. Alat yang digunakan adalah Mandau atau parang panjang khas Kalimantan Tengah. Kini, tari Kayau dipertunjukkan di upacara adat yang mempersembahkan kepala babi.



2. Tari Giring-giring

Tari kesenian tradisional Kalimantan Tengah yang namanya unik ini identik dengan gerakan penari yang menghentakkan tongkat bambu. Isian kerikil pada tongkat tersebut akan memunculkan suara nyaring yang menjadi ciri khas Tari Giring-giring.



Suku Dayak Maanyan lah yang mempopulerkan tari ini.

3. Tari Kinyah Mandau

Tari Kinyah mandau
Tidak hanya pada Tari Kayau, senjata Mandau juga digunakan kala penari mempertunjukkan Tari Kinyah Mandau. Kesenian tradisional Kalimantan Tengah mengombinasikan tari dengan seni teaterikal.



Cerita yang ditampilkan adalah kisah peperangan menggunakan Mandau, yang mana setiap kubu terlihat seolah berusaha memenggal kepala musuh.

4. Tari Mandau

Jika daerah Jawa Tengah memiliki Tari Jathilan atau Kuda Lumping yang melibatkan unsur magis di dalamnya, maka kesenian tradisional Kalimantan Tengah memiliki Tari Mandau.



Penari melakukan ritual khusus untuk memohon keselamatan saat mempertunjukkan Tari Mandau. Senjata Mandau dan tameng digunakan sembari menunjukkan atraksi berbahaya oleh penari yang mengayunkan dan menggigit Mandau tersebut.

5. Tari Tuntung Tulus

Tarian ini ditampilkan untuk menghibur para rakyat saat acara perlombaan, penyambutan tamu, acara pernikahan, acara adat, acara keagamaan, atau acara istimewa lainnya.

Penari perempuan berjumlah sekitar 6 orang akan menampilkan Tari Tuntung Tulus dengan kostum khas Suku Dayak yang berwarna merah dan hitam, dengan formasi khusus.

Meskipun hanya dijadikan sebagai pertunjukan yang menghibur, tari ini juga mengandung unsur mistis yang membuat penonton tanpa sadar seolah merasa sangat takjub.


6. Tari Manganjan

Kesenian tradisional Kalimantan Tengah yang satu ini mengandung unsur kesakralan yang kuat. Sebab, hanya ditampilkan saat prosesi upacara pengantaran roh para leluhur yang sudah meninggal bertahun-tahun lalu.

Suku Dayak percaya bahwa mereka harus mengantarkan roh para leluhur ke alam baka dengan upacara Tiwah. Upacara Tiwah dilakukan dengan menyucikan dan memindahkan jasad (biasanya berupa tulang-belulang) yang sebelumnya ada di liang kubur ke rumah kecil bernama sandung.

Di dalam upacara inilah terselip Tari Menganjan yang juga harus ditampilkan.



7. Tari Putri Melawen

Sejak zaman kerajaan dulu, Tari Putri Melawen ditampilkan sebagai tarian yang sifatnya menghibur penonton. Sehingga tak ada unsur magis atau nilai sakral pada tarian ini. Sesuai dengan namanya, penari yang tampil membawakannya merupakan perempuan asal Danau Melawen.


Hingga saat ini, Tari Putri Melawen ditampilkan pada acara pesta hiburan rakyat, atau pertunjukan khusus untuk tamu dan wisatawan

8. Tari Manasai 

Tari yang satu ini dibawakan oleh penari laki-laki dan perempuan yang berbaris membentuk sebuah lingkaran. Pertunjukan Tari Manasai mengandung unsur rasa bahagia dan ekspresi kegembiraan yang diperuntukkan saat penyambutan tamu istimewa.


Yang unik dari kesenian tradisional Kalimantan Tengah ini adalah penari akan mengajak beberapa penonton untuk masuk ke dalam lingkaran, dan ikut menari bersama. Sehingga suasana ramai dan meriah akan terasa saat menonton pertunjukan ini.

9. Tari Hugo dan Huda

Setiap daerah rasanya selalu memiliki tarian khusus yang ditujukan sebagai permohonan turunnya hujan saat masa kemarau panjang. Demikian pula dengan kesenian tradisional Kalimantan Tengah yang memiliki Tari Hugo dan Huda.


Permintaan turunnya hujan ditujukan pada dewa-dewa di langit, agar rakyat diberkahi oleh hujan yang bermanfaat bagi hasil panen tani yang baik yang kemudian mendatangkan rejeki.

10. Tari Balean Dadas

Dahulu, kesenian tradisional Kalimantan Tengah ini dipertunjukkan sebagai tarian permohonan kepada Tuhan untuk meminta kesembuhan dari sebuah penyakit yang diderita seseorang. Istilah Balean Dadas berarti dukun perempuan yang juga ikut serta dalam tarian ini.


Di masa modern di mana perkembangan dunia kesehatan dan pengobatan penyakit sudah maju, maka tarian ini tidak lagi memiliki tujuan yang sama. Melainkan hanya digunakan sebagai tarian penyambutan tamu istimewa atau acara peresmian.

11. Tari Tambun dan Bungai

Dahulu kala, ada cerita legenda yang mengisahkan usaha perampasan hasil panen rakyat Palangkaraya oleh musuh yang kemudian dihalau oleh pahlawan bernama Tambun dan Bungai. Keduanya berhasil mengusir musuh tersebut, dan menyelamatkan rakyat.


Kedua pahlawan legendaris ini dipercaya berasal dan tinggal di Kabupaten Gunung Mas. Cerita heroik ini kemudian berusaha dilestarikan lewat sebuah tarian yang dinamakan Tari Tambun dan Bungai.

12. Karungut



Kesenian tradisional Kalimantan Tengah yang terakhir ini bukanlah tarian, melainkan sastra lisan yang kemudian ditampilkan sebagai kesenian musik tradisional. Syair yang ditulis dengan Bahasa Dayak Ngaju. Bentuknya mirip seperti pantun yang kemudian dilagukan.

Instrumen alat musik yang mengiringi Karungut adalah alat musik Sape yang bentuknya mirip seperti gitar. Nyanyian Karungut sangat khas dengan suara merdu sang penyanyi, syair yang menyejukkan hati, lengkap dengan petikan Sape yang sangat enak didengar.



Post a Comment

Lebih baru Lebih lama